1. Suami istri harus menampakan pandangan relistis terhadap konflik rumah tangga mereka karena konflik itu dapat menjadi salah satu faktor untuk melakukan dialog dan saling memahami.
  2. Cara yang ditempuh suami istri dalam menghadapi konflik rumah tangga itu adakalanya menyelesaikan konflik atau justru akan memperbesar dan memperluas wilayah konflik.
  3. Sudah pasti kalimat-kalimat kasar dan ungkapan-ungkapan yang keras akan terus bergema hingga setelah konflik berakhir dan akan menambah akumulasi psikologis.
  4. Mendiamkan konflik merupakan solusi negatif sesaat. Menyimpan persoalan di dalam dada merupakan awal dari belenggu psikologis dan menyesakkan dada.
  5. Ketika menyelesaikan persoalan, haruslah menyeluruh, menyenangkan dan lapang dada.
  6. Cara-cara yang menyenangkan salah satu pihak hauslah dihindari, karena gunung berapi akan segera meletus ketika ada pemicunya dan bahkan ketika terjadi benturan paling kecil sekalipun.
  7. Dalam menyelesaikan konflik haruslah dihindari cara-cara penghinaan dan pengingkaran dan bergantung terhadap keuntungan, karena hal itu akan memperdalam jurang konflik.
  8. Menjauhkan diri dari membanggakan nasab, kekayaan, kecantikan, ketampanan atau intelektualitas, karena hal ini akan menyebabkan hancurnya ikatan rumah tangga.
  9. Ketika menyelesaikan dan menghadapi konflik apapun, maka keputusan apapun tidak boleh diambil kecuali setelah dipelajari dengan baik dan seksama.
  10. Persoalan hendaklah dipahami dengan baik. Adakah ia benar-benar konflik atau hanyalah kesalahpahaman, maka mengungkapkan kebenaran konflik dan apa yang menghimpitnya dengan cara yang jelas dan langsung merupakan tujuan masing-masing suami istri dan akan membantu untuk menghilangkan kesalahpahaman yang menjadi pokok persoalan.
  11. Kembali kepada diri, intropeksi diri dan mengetahui kekurangan diri dihadapan Allah akan membuat anda memandang rendah keslahan orang lain terhadap diri anda.
  12. membatasi konflik dan mengontrol volumenya agar tidak tersebar atau keluar dari rumah tangga.
  13. Sesungguhnya mengakui kesalahan merupakan jalan untuk mencapai kebenaran dan pihak lain harus berterimakasih dan memuji pihak yang mengakui kesalahannya. "mengakui kesalahan lebih baik dari pada terus -menerus dalam kesalahan".
  14. Sabar terhadap watak-watak yang telah berakar pada masing-masing pihak, baik sifat cemburu dari pihak suami atau istri, serta mengetahui watak-watak kejiwaan masing-masing dan mensikapinya dengan lemah lembut.
  15. Beradaptasi dengan semua situasi  dan kondisi, sikap tenang dan tidak tergesa-gesa dan hati-hati merupakan kondisi yang paling kondusif untuk melihat kebenaran dan pandangan yang tepat dalam melihat persoalan.

0 komentar:

Post a Comment